|
Lima puluh tahun Galeri Hadiprana

Karya Bawa Antara
Lima puluh tahun Galeri Hadiprana di rayakan pada tahun 2012.Serangkaian acara telah dan akan dimulai antara April - Juni 2012.
Pada acara puncaknya akan diselenggarakan pameran seni rupa yang diikuti oleh lebih dari 50 seniman pelukis dan pematung. Pameran penting ini menyertakan pemikiran dua dari kurator ternama Indonesia yang akan memberikan tanggapan dan banyak hal yeng berkaitan dengan Galeri Hadiprana secara umum dan seniman serta karyanya secara khusus. Dua kurator ( Agus Dermawan T, Jakarta dan AA Nurjaman, Jogjakarta ) dari era yang berbeda ini diharapkan dapat menghasilkan obyektifitas nilai dan dari pemikiran yang berbeda akan tercipta keluasan pengertian / pemaknaan. Nilai yang obyektif serta luasnya pemaknaan dari sebuah pameran akan memberi perspektif baru untuk memandang seni rupa Indonesia.
Ditengah penulisan ini, saya membaca berita yang menyebutkan bahwa rekor lukisan termahal saat ini dihasilkan dalam penjualan Rumah lelang Sotheby di New York City yang menjual lukisan 'The Scream' karya Edvard Munch seharga $119.922.500 atau setara dengan Rp 1,090 triliun. Harga ini mengalahkan rekor harga lukisan termahal sebelumnya, yaitu Picasso berjudul "Nude, Green Leaves, and Bust" seharga $ 106,5 juta atau Rp 976,1 miliar.(sumber dari Yahoo)
Sementara di Indonesia situasi pasar seni rupa sedang bearish (menurun). Mudah mudahan saat ini pasar seni rupa Indonesia sudah berada di kurva terendahnya dan sebentar lagi seni rupa mulai bullish (naik). Turun naiknya pasar seperti ini akan mengoreksi berbagai hal yang berkaitan dengan seni rupa. Bisa harganya, bisa kwalitasnya atau bisa juga infrastruktur dan aturan mainnya, hingga akan menghasilkan dunia seni rupa Indonesia yang kuat dan tidak meragukan
Situasi seni rupa saat ini tentu akan menghasilkan banyak pendapat dan spekulasi. Panjang dan lamanya kurva penurunan pasar seni rupa (sejak th 2008) akan membuat masyarakat seni rupa tidak lagi bisa berada di posisi menunggu dan mengamati. Banyak praktisi seni rupa talah mulai mengambil langkah. Ada beberapa praktisi seni rupa (Seniman, Kurator, Kolektor, Promotor, Pedagang, Galeri dan lainnya) yang menghentikan kegiatannya dan beralih pada bidang lain. Ada yang mengurangi kegiatannya agar dapat bernafas lebih lega. Ada yang terus bersikukuh pada kehidupan seni rupa, dll. Masing masing mempunyai tempat, kekuatan dan tujuan masing masing.
Galeri hadiprana 1962 -2012. Setengah abad perjalanan sebuah galeri terlebih di Indonesia, tentu memiliki cerita dan pengalaman yang pantas untuk dipelajari. Pada pameran ulang tahunya ke lima puluh ini pameran seni rupanya akan memamerkan karya seniman seniman Indonesia dari berbagai generasi. Dari yang senior seperti AD Pirous, Mulyadi, Antonio Blanco, G Sidharta sampai generasi anyar seperti Budi Ubrux, Yuli Kodo dan Made Gunawan.
Agus Dermawan T yang telah cukup lama menyertai Galeri Hadiprana dalam berbagai kegiatannya pernah mengatakan bahwa cita rasa / pilihan karya yang dilakukan Hendra Hadiprana (Oom Henk) pendiri Galeri Hadiprana mempunyai benang merah yang disebutnya hadipranian (gaya Hadiprana) Pendapat seperti ini pantas dicatat dan dipelajari karena hal demikianlah yang sebenarnya membuat sebuah galeri itu mampu bertahan dan memberi warna dunia seni rupa Indonesia. Karena apalah artinya banyak galeri jika semuanya mempunyai pilihan dan selera yang sama.
Cita rasa adalah ruh yang akan terus menghidupkan galeri secara fisik. Dan karakter atau ruh inilah yang akan mendapat nilai dari masyarakat pecinta seni rupa. Ruh ini pulalah yang akan membuat semua seniman dan kolektor mempunyai "rumahnya" masing masing
Perjalanan Galeri Hadiprana telah melalui berbagai zaman. Dari zaman Soekarno, presiden RI yang sangat dekat dengan seni rupa. Zaman Soeharto Presiden RI yang lebih fokus pada masalah ekonomi dan keamanan, hingga saat ini dibawah SBY yang sepertinya sedang sibuk dengan bersih bersih. Dalam dunia seni rupa, perjalanan Galeri Hadiprana telah melewati berbagai perubahan dari mulai seniman seniman PERSAGI, LEKRA dengan Bumi Tarung, Sanggar Bambu,Sanggar Dewata hingga Kontemporer.
Apa yang telah dilakukan Hendra Hadiprana dan keluarganya dengan Galeri Hadiprana-nya, mengoleksi, memamerkan dan memasarkan karya beberapa seniman Indonesia selama limapuluh tahun pantas mendapat perhatian dunia seni rupa Indonesia.
Yulianto liestiono. Depok 06 Mei 2012
_________________________
KEN PATTERN
ditengah kepungan Kontemporer.
Menciptakan gambar selalu menjadi bagian dari kehidupannya. Setelah melewati berbagai proses berkarya. Th 1990 Ken Pattern mulai menggambar dengan pena & tinta. Jalan kampung, perumahan kaum papa dibelakang megahnya menara menara beton, sudut sudut jalan yang menjadi tanda kota serta beberapa kegiatan masyarakat bawah Jakarta menjadi tema utama yang terus ia kerjakan. Ken Pattern seperti sedang mendata dan mendokumentasikan Jakarta karena ia merasa berlomba dengan kecepatan perubahan fisik maupun budaya Jakarta yang sangat dinamis.

Membaca karya Ken Pattern seperti membaca sebuah buku tebal yang bercerita tentang banyak hal. Kita dapat mempelajari dan melihat banyak persoalan didalamnya. Dari sudut teknik, kita dapat melihat kepiawaian seorang maestro garis. Ken Pattern adalah satu dari sedikit seniman asing yang telah menjadi Indonesia, yang melukis dengan mengutamakan garis. Lihat saja karya John Van Der Sterrn misalnya, atau karya Arie Smith yang berdomisili di Bali. Karya Ken Pattern terlihat lebih dominan menggunakan garis. Penggunaan garis untuk berkarya / melukis adalah sebuah pilihan yang tidak dapat diambil begitu saja. Menggunakan garis sebagai media ekspresi akan otomatis dituntut untuk memiliki ketekunan, ketrampilan, kesabaran, kekuatan, dan keyakinan yang sungguh tidak sederhana. Seniman Indonesia yang utamanya menggunakan garis seperti Nyoman Lempad, Affandi adalah seniman yang tak lekang dilindas jaman.
Garis adalah elemen dasar dalam seni rupa terlebih jika digunakan tanpa menggunakan warna (hitam putih). Penggunaan elemen dasar seperti ini memerlukan ketrampilan yang sangat tinggi, karena jika tidak mencapai komposisi atau ekspresi yang baik, maka karya hitam putih yang hanya menggunakan garis, akan menjadi karya yang sangat membosankan dan mudah terbaca kelemahan kelemahannya.
Dan ketika Ken Pattern berani menggunakan garis sebagai elemen utama dan ditampilkan dalam nuansa hitam putih, ini menyiratkan bahwa ia telah sangat yakin akan kemampuannya. Dan memang pada kenyataannya karyanya selalu memukau pecintanya dan menimbulkan kekaguman mereka yang memahami seni rupa.
Dari sudut tema, karya Ken Pattern terlihat mempunyai keunggulan tersendiri. Kesungguhannya menggambarkan sudut sudut Jakarta, sepertinya muncul dari kesadarannya bahwa ia harus ikut serta melestarikan Jakarta walau hanya dalam bentuk gubahan karya. Pendokumentasian sudut –sudut Jakarta yang dilakukan Ken Pattern juga menunjukan kecintaannya pada negeri ini. Sebuah sikap yang justru jarang diambil bahkan oleh seniman Jakarta sendiri.
Pendokumentasian seperti ini akan makin terasa manfaatnya serta nilainya akan menjadi begitu tinggi utamanya dimasa yang akan datang, ketika Jakarta sudah sangat berubah beberapa tahun lagi.
Dari sudut gaya lukisan, karya Ken Pattern yang di kemas dalam gambar realis, adalah sebuah karya yang jelas ditujukan untuk mencapai target komunikasi yang lugas. Ditengah kepungan karya yang berlabel kontemporer, karya Ken Pattern tetap memiliki pesonanya sendiri. Dan kalaupun di sandingkan dengan karya fotografi karyanya semakin memukau karena dikerjakan dengan ketrampilan seorang maestro.
Kali ini Ken Pattern menampilkan karyanya yang dihasilkan karena terinspirasi oleh lingkungan dan kehidupan masyarakat Pulo Dewata, Bali. Arsitektur tradisional yang artistik, Alam yang cantik serta masyarakat Bali yang dinamis selalu memukau para seniman dalam maupun luar negeri. Karya Ken Pattern kali ini akan melengkapi dan menambah warna seni rupa Indonesia.
Pameran Ken Pattern adalah bagian penting dari kegiatan seni rupa Indonesia. Terlebih ditengah gamangnya masyarakat seni rupa terhadap nilai karya yang asal disebut kontemporer.
[yulianto liestiono 17 Nov 2011]
Sejarah adalah Kenyataan
Galeri Hadiprana adalah galeri seni rupa yang telah melewati sejarah panjang. Perjalanan dan keberadaan Galeri Hadiprana dimulai sejak Th 1962. Artinya sekarang keberadaannya sudah 49 tahun. Ini adalah kenyataan yang tak dapat diabaikan dalam catatan sejarah seni rupa Indonesia. Om Henk panggilan akrab untuk Hendra Hadiprana adalah pendiri dan nahkoda galeri yang terus akif sampai saat ini. Kecintaannya terhadap dunia seni, khususnya seni rupa adalah sumber kekuatan untuk dapat terus aktif mengikuti perkembangan seni rupa Indonesia.
Kedekatan Hendra Hadiprana dengan berbagai kalangan baik seniman maupun yang lain, adalah salah satu modal utama untuk eksisnya Galeri Hadiprana. Kepeduliannya terhadap seniman seniman muda khususnya mereka yang memiliki dedikasi berkesenian terlihat dari berbagai pameran yang di selenggarakan. Pilihan karya yang didasari dengan citarasa khas Galeri Hadiprana adalah “jaminan” untuk kolektor – kolektornya.
Dinamika pertumbuhan dunia seni rupa Indonesia sejak 1962 sampai saat ini telah menjadi bagian dari cerita Galeri Hadiprana. Eksisnya galeri Hadiprana adalah kenyataan sekaligus jaminan akan nilai seni rupa di Indonesia. (yulianto liestiono, Sept 2011)
|