|
Lima puluh tahun Galeri Hadiprana

Karya Bawa Antara
JOURNEY
This is the journey of the past flakes
when I passed the days in a city
that look dull, even appear gloomy dusk
the heart showed no colors, but only gray
full of graffiti in the city which was only lost when
the night comes darkwhen it comes
This simple city that is still being wanted change
Until the time when I could hardly believe,
I saw a bunch of paintings; there is an exhibition in the city
It was like watching rose bushes in the desert
This looks poor nations have turned out a remarkable artistic talent
My view of this country change instantly
the paintings in the exhibition was so beautiful and fascinating
The time it seemed like a breath of fresh air in the mountains
No less artistic quality when compared with the works of
art from a developed nation. See the beauty that I felt truly a gift from God
even though I never knew why God gave it.
Later two years later I met a friend.
He offered a place to set up an art gallery.
"Let's go to open the gallery, we sell the painting" he said ...
He knows I have many artists as friend in Bandung and Yogyakarta
Then stood Prasta Pendawa Gallery in Jalan Paletehan in 1962
I invite the painters to chat while drinking coffee together at the gallery
The painter gave the paintings to fill a gallery wall.
There Srihadi, But Mochtar, Sadali, AD Pirous, Jusuf Affendi of Bandung.
Widayat of Yogyakarta and Antonio Blanco of Bali.
This gallery also holds exhibitions few times and all the success.
Among these are Mulyadi W, Arif Sudarsono, Kuncana & Sri Yunnah.
The early-seventies my friend moved to Hong Kong and did not return to Jakarta.
There is no other option that I had to move the gallery.
Fortunate to be able to place across the street. 1973 began to build. In 1975
the gallery moved to a new official and renamed the Galeri Hadiprana until now
The names that ever was exhibited at the Gallery Hadiprana
Jeihan, Nisan, Sutopo, Suparto.
At a time when there is time for change.
Atmospheric Paletehan Road area began not support for an art gallery,
the mood has turned into a frenzy,
In 1997 the Galeri Hadiprana moved to Kemang Raya
Occupies a new building that bigger and better
In this gallery there are some names of young painters from Bali to be noted.
They have exhibited at the Galeri Hadiprana and all the success
Made Gunawan, Bawa Antara, Made Hantaguna, Putu Bonuz, Ketut Susena
They come from people who are simple but
Now they now have become a great painter, economic well-established.
Average have a nice house and a new car
Gallery Hadiprana remain loyal to grow with the young artists
and certainly can not forget the role and support of art lovers.
They are the friends who offered an opportunity for
Galeri Hadiprana always faithful to show devotion
on the valuable work of art of Indonesia
The art world has always found a way to live
We often tell each other how lucky we are
But we know our journey has been assisted by the angels from heaven
God has given the best for Galeri Hadiprana and
the artists still burning brightly, never fade.
Let's give thanks to God who has given 50 years has become a
very special trip to the Galeri Hadiprana
May God continue to give special for the next 50 years ...
Johanda Karihadi, 2012
_________________________
KEN PATTERN
ditengah kepungan Kontemporer.
Menciptakan gambar selalu menjadi bagian dari kehidupannya. Setelah melewati berbagai proses berkarya. Th 1990 Ken Pattern mulai menggambar dengan pena & tinta. Jalan kampung, perumahan kaum papa dibelakang megahnya menara menara beton, sudut sudut jalan yang menjadi tanda kota serta beberapa kegiatan masyarakat bawah Jakarta menjadi tema utama yang terus ia kerjakan. Ken Pattern seperti sedang mendata dan mendokumentasikan Jakarta karena ia merasa berlomba dengan kecepatan perubahan fisik maupun budaya Jakarta yang sangat dinamis.

Membaca karya Ken Pattern seperti membaca sebuah buku tebal yang bercerita tentang banyak hal. Kita dapat mempelajari dan melihat banyak persoalan didalamnya. Dari sudut teknik, kita dapat melihat kepiawaian seorang maestro garis. Ken Pattern adalah satu dari sedikit seniman asing yang telah menjadi Indonesia, yang melukis dengan mengutamakan garis. Lihat saja karya John Van Der Sterrn misalnya, atau karya Arie Smith yang berdomisili di Bali. Karya Ken Pattern terlihat lebih dominan menggunakan garis. Penggunaan garis untuk berkarya / melukis adalah sebuah pilihan yang tidak dapat diambil begitu saja. Menggunakan garis sebagai media ekspresi akan otomatis dituntut untuk memiliki ketekunan, ketrampilan, kesabaran, kekuatan, dan keyakinan yang sungguh tidak sederhana. Seniman Indonesia yang utamanya menggunakan garis seperti Nyoman Lempad, Affandi adalah seniman yang tak lekang dilindas jaman.
Garis adalah elemen dasar dalam seni rupa terlebih jika digunakan tanpa menggunakan warna (hitam putih). Penggunaan elemen dasar seperti ini memerlukan ketrampilan yang sangat tinggi, karena jika tidak mencapai komposisi atau ekspresi yang baik, maka karya hitam putih yang hanya menggunakan garis, akan menjadi karya yang sangat membosankan dan mudah terbaca kelemahan kelemahannya.
Dan ketika Ken Pattern berani menggunakan garis sebagai elemen utama dan ditampilkan dalam nuansa hitam putih, ini menyiratkan bahwa ia telah sangat yakin akan kemampuannya. Dan memang pada kenyataannya karyanya selalu memukau pecintanya dan menimbulkan kekaguman mereka yang memahami seni rupa.
Dari sudut tema, karya Ken Pattern terlihat mempunyai keunggulan tersendiri. Kesungguhannya menggambarkan sudut sudut Jakarta, sepertinya muncul dari kesadarannya bahwa ia harus ikut serta melestarikan Jakarta walau hanya dalam bentuk gubahan karya. Pendokumentasian sudut –sudut Jakarta yang dilakukan Ken Pattern juga menunjukan kecintaannya pada negeri ini. Sebuah sikap yang justru jarang diambil bahkan oleh seniman Jakarta sendiri.
Pendokumentasian seperti ini akan makin terasa manfaatnya serta nilainya akan menjadi begitu tinggi utamanya dimasa yang akan datang, ketika Jakarta sudah sangat berubah beberapa tahun lagi.
Dari sudut gaya lukisan, karya Ken Pattern yang di kemas dalam gambar realis, adalah sebuah karya yang jelas ditujukan untuk mencapai target komunikasi yang lugas. Ditengah kepungan karya yang berlabel kontemporer, karya Ken Pattern tetap memiliki pesonanya sendiri. Dan kalaupun di sandingkan dengan karya fotografi karyanya semakin memukau karena dikerjakan dengan ketrampilan seorang maestro.
Kali ini Ken Pattern menampilkan karyanya yang dihasilkan karena terinspirasi oleh lingkungan dan kehidupan masyarakat Pulo Dewata, Bali. Arsitektur tradisional yang artistik, Alam yang cantik serta masyarakat Bali yang dinamis selalu memukau para seniman dalam maupun luar negeri. Karya Ken Pattern kali ini akan melengkapi dan menambah warna seni rupa Indonesia.
Pameran Ken Pattern adalah bagian penting dari kegiatan seni rupa Indonesia. Terlebih ditengah gamangnya masyarakat seni rupa terhadap nilai karya yang asal disebut kontemporer.
[yulianto liestiono 17 Nov 2011]
Sejarah adalah Kenyataan
Galeri Hadiprana adalah galeri seni rupa yang telah melewati sejarah panjang. Perjalanan dan keberadaan Galeri Hadiprana dimulai sejak Th 1962. Artinya sekarang keberadaannya sudah 49 tahun. Ini adalah kenyataan yang tak dapat diabaikan dalam catatan sejarah seni rupa Indonesia. Om Henk panggilan akrab untuk Hendra Hadiprana adalah pendiri dan nahkoda galeri yang terus akif sampai saat ini. Kecintaannya terhadap dunia seni, khususnya seni rupa adalah sumber kekuatan untuk dapat terus aktif mengikuti perkembangan seni rupa Indonesia.
Kedekatan Hendra Hadiprana dengan berbagai kalangan baik seniman maupun yang lain, adalah salah satu modal utama untuk eksisnya Galeri Hadiprana. Kepeduliannya terhadap seniman seniman muda khususnya mereka yang memiliki dedikasi berkesenian terlihat dari berbagai pameran yang di selenggarakan. Pilihan karya yang didasari dengan citarasa khas Galeri Hadiprana adalah “jaminan” untuk kolektor – kolektornya.
Dinamika pertumbuhan dunia seni rupa Indonesia sejak 1962 sampai saat ini telah menjadi bagian dari cerita Galeri Hadiprana. Eksisnya galeri Hadiprana adalah kenyataan sekaligus jaminan akan nilai seni rupa di Indonesia. (yulianto liestiono, Sept 2011)
|